Cerita Celana Jeans

CERITA CELANA JEANS #1 

Aku tak mengerti kenapa bentukku ketat seperti ini. Aku khawatir akan menyakiti para pemilik kaki, terutama perempuan. Kaki-kaki mereka terlalu indah untuk disakiti. Yang aku herankan, kenapa mereka masih begitu setia? Aku senang jika aku dibeli, dicuci dan rendam dalam pewangi, lalu dipakai untuk acara rekreasi. Tapi lihat, mereka memakaiku juga pada saat-saat resmi. Begitu agung-kah aku?

Kini aku bersyukur, tinggal dalam lemari yang sejuk dan wangi. Aku dan teman-teman sejenisku tak pernah lagi disentuh. Pemilikku sudah tak memakaiku lagi semenjak tiga tahun yang lalu. Tapi, bukan berarti ia mencampakkanku, justru aku senang dipensiunkan.

Suatu malam aku dikagetkan oleh seorang wanita yang membuka lemari (tempat aku dan teman-teman menikmati masa-masa pensiun), mataku tersipit-sipit akibat cahaya lampu yang seketika menusuk mataku. Kemudian wanita itu berkata kepada anaknya, “Kenapa celana-celana ini ditumpuk seperti ini? Tidak muat lagi, Nak?”

Anaknya hanya diam. Dia masih belum berani memberi alasan apapun kepada ibunya.

“Besok ikut Ibu ke toko pakaian. Kita beli celana jeans yang baru, yang pas untukmu.”

Anak itu lagi-lagi hanya diam, melirik kami sebentar, kemudian menutup pintu lemari yang lupa ditutup oleh ibunya.

image

Esoknya si anak diajak ke toko pakaian, di sana terpajang berbagai macam jeans dengan model terbaru, dan semuanya sengaja didesain pas-pasan: pas di pinggul, pas di paha, dan pas di betis. Tapi tidak ada yang pas di hati anak perempuan itu.

Kemudian dia menarik lengan ibunya ke spot yang memajang aneka blus dan rok. Dia memilih-milih dengan seksama, kemudian mengambil satu.

“Ini berbahan jeans juga, Bu. Boleh aku ambil yang ini?”

Ibunya tersenyum. Nampaknya ibunya sudah mulai mengerti. Setelah membayarnya di kasir, tiba-tiba ibunya berkata,

“Apa tidak mau beli rok di tempat lain? Tadi Ibu melihat rok yang bagus di toko sebelah. Motifnya bunga-bunga. Bagaimana kalau kita ke sana?”

Si anak sumringah menggandeng lengan ibunya.

***

Paginya ketika sedang membantu ibunya memasak, anak itu berkata,

“Maaf ya, Bu…”

“Maaf untuk apa?”

“Sejak tiga tahun lalu aku mulai tidak memakai celana jeans yang ketat…”

“Lalu, menurutmu Ibu akan marah? Tidak akan, Nak.”

“Hmmm, apa lebih baik aku sumbangkan celana-celana itu, Bu?”

“Tidak perlu. Simpan saja. Jika kamu memberikan celana-celana itu, sama saja kamu menyuruh mereka untuk memakainya… Akan banyak lagi paha-paha dan betis-betis yang tersakiti karenanya.”

…..

Tulisan ini kupersembahkan untuk para perempuan yang sedang berusaha memantaskan dirinya (termasuk si penulis juga) 😀

eh eh eh … tunggu dulu tentu saja bukan gueeh penulisnya bukaaann -_-
jangan salah sangka this is created by anamrufisa you must check her blog awesome one🙂

“READ  CERITA CELANA JEANS PART 2 HERE!!”

One thought on “Cerita Celana Jeans

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s