Cerita celana Jeans #2

CERITA CELANA JEANS#2

cerita ini sambungan dari CERITA CELANA JEANS #1 yang belum baca sebaiknya dibaca dulu biar nyambung ayok ayok yang mau baca kilik –> “DISINI”

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQIGyiYDg1N-nfEWzz0_-HqQFnhU5qZvuhutRG9fifEBcSeQyAX

Perkenalkan, saya Jini, baru saja ada seorang wanita setengah baya membawaku ke meja kasir. Si petugas kasir menyebutkan bilangan rupiah dengan nada yang renyah, dia menyebutkan hargaku! Aku dihargai dua ratus ribu rupiah sekian. Harga yang cukup mahal untuk ukuran celana sepertiku. Teman-temanku yang lain hanya dihargai setengah dari hargaku. Apa yang membuatku spesial?

Temanku bilang, aku lahir di luar negeri, untuk membawaku ke toko ini butuh biaya yang tinggi. Mereka bilang aku beruntung karena banyak manusia yang memilih produk luar negeri, katanya sih untuk menaikkan gengsi. Tidak cukup sampai di situ, pakaian mahal biasanya dimasukan ke binatu, mungkin aku juga akan dimandikan di tempat itu. Bagiku sama saja, nantinya akan merasakan panasnya setrika. Rasanya mungkin seperti neraka-nya manusia.Tiba juga aku di rumah wanita itu, ia meletakkanku di atas tempat tidur yang empuk. Cukup lama aku tergeletak di sana, hingga larut malam. Kemudian ada yang menyalakan lampu. Ah, akhirnya berakhir juga penantianku. Sebentar lagi aku akan dimandikan, dan tentu saja segera dikenakan.Loh? Kenapa ini? Kenapa aku malah mendengar suara tangisan anak perempuan? Aku mengintip dari balik plastik pembungkusku. Benar dugaanku, ada yang menangis.“Mamaaa, kenapa mama gak pernah mau ngertiin adek? Adek gak mau pake celana jeans lagi, Maaam… Aku harus bilang apa supaya Mama ngerti… Apa nama Allah tidak cukup untuk kujadikan alasan?”

Tapi, tangisan itu tidak akan terdengar ibunya, lirih sekali, bahkan nyaris berbisik. Aku merasa bersalah. Gara-gara kehadiranku di sini anak itu menjadi sedih. Lalu, bagaimana dengan nasibku?

***

“Mama hanya khawatir, tiap hari kamu naik turun kereta, kemudian bus, kemudian angkot, apa kamu tidak ribet? Melihatnya saja sudah ribet. Pakailah jeans ini, toh kamu juga jadi terlihat lebih trendi.”

Itu kata ibunya sewaktu aku sedang berendam bersama pakaian lain di sebuah ember. Ternyata ibunya pun memikirkan kebaikan anaknya.

“Sejauh ini aku masih bisa berlari mengejar bus dengan rokku.”

“Nak… kamu pernah cerita, waktu di kereta kamu tidak sempat turun karena rokmu terinjak, hingga kamu harus turun di stasiun berikutnya, kan?”

“Itu karena rok yang aku pakai terlalu panjang dan memang terlalu lebar, Ma…”

***

Aku sudah bersih dan wangi. Aku sudah siap dipakai. Tapi sudah berhari-hari aku hanya jadi penghias lemari. Perempuan itu lebih memilih memakai celana bahan yang longgar daripada aku. Aku sih baik-baik saja, justu aku kasihan dengan anak ini, nampaknya dia ingin sekali memakai rok setiap hari, seperti teman-temannya.

Kemudian di hari berikutnya anak ini lebih ceria, entah kenapa dia memboyongku keluar lemari. Ah, apa aku akan dipakai? Kali ini ibunya tidak bertanya apa-apa. Aku tahu, ibunya pasti kesal karena merasa sia-sia mengeluarkan uang untuk membeli aku.

“Mamaa, lihat aku, aku pakai jeans yang mama belikan…”

Ibunya menoleh. Jeansnya memang dipakai, tapi anak itu memakai rok lagi untuk luaran. Ibunya hanya menghela nafas.

“Ke sini, Nak,”

Anak itu beringsut menghampiri ibunya yang sedang menyantap berita di tv.

“Kamu boleh berikan celanamu ini ke temanmu jika kau tidak suka.”

“Aku suka, Maa.”

“Tapi tidak bisa sekaligus dua yang kamu pakai, kamu terlihat seperti badut! Pilihlah salah satu, dan tinggalkan yang satunya.”

“Maksud Mama… aku boleh meninggalkan celana jeans ini?”

Ibunya mengangguk.

“Dengan syarat, kamu harus konsisten…”

“Insya Allah, Maa!”

Wajah anak itu semakin ceria. Kini ia tak perlu menangis lagi karena aku. Anak itu melipatku lagi dengan rapi dan membungkusku bersama celana-celana lain yang sama-sama berbahan jeans.

“Ini akan kujual di pasar loak, lumayan uangnya untuk beli buku,”

Sedih sekali nasibku, hargaku yang selangit pada akhirnya harus berakhir di sini, di pasar loak. Bersama teman-temanku yang lain, yang harganya jauh dibawahku. Tapi aku senang, setidaknya pemilikku yang lama bisa bahagia dengan pilihannya. Semoga ia istiqomah.

Ana Rufisa

One thought on “Cerita celana Jeans #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s