Stereotipe

 

“Ih, masa sih seorang dokter masih bisa jatuh sakit, sampai dirawat di rumah sakit pula.”

“Masa sih ahli gizi berat badannya ga ideal? Malu dong.”

“Wow, masa iya sih guru kok anaknya sampai ga naik kelas?”

Pernah dengar selentingan semacam itu? Panas ga kupingnya kalo kekurangan yang kita miliki kemudian dihubung-hubungkan dengan segala sesuatu yang menjadi identitas kita?

Itu contoh kasus sederhana. Ada juga yang lebih pelik, seperti “Ih ga oke banget sih, masa jilbaban masih begitu juga kelakuannya.” Atau, “Ngakunya Muslim kok kayak begitu sifatnya.”

Sekarang coba dibalik statemennya.

“Nah itu, Kang Ujang yang jago debus, berdarah juga kan waktu digigit nyamuk. Melilit juga kan kalau seharian ga makan nasi, karena fitrah manusia itu makan makanan yang baik, bukan makan beling.”

Apa bedanya?

Mungkin sering ya diantara kita yang terlalu mudah menghakimi seseorang karena identitasnya. Seorang jilbaber seolah dianggap hina dina ketika melakukan sebuah kesalahan kecil. Sedangkan mbak-mbak yang mondar-mandir dengan pede menggunakan rok mini, seolah dianggap biasa. Terus, seperti fenomena yang selama ini terjadi. Amerika dan antek-anteknya yang jelas-jelas berbuat teror di seluruh penjuru negeri kaum Muslim, seakan-akan bersih dari label “Teroris”. Now, who’s the real terorist?

Gajah di pelupuk mata tak nampak, sedangkan kuman di seberang pulau nampak besar sekali. Mengutip juga sebuah kutipan menarik dari Tere Liye,

“Manusia adalah pengacara yang hebat untuk kesalahan diri sendiri, tetapi berubah menjadi hakim yang mahsyur untuk kesalahan orang lain.”

Manusia berbuat khilaf itu wajar, selama dia tidak meyakini bahwa kekhilafan itu sah-sah saja dikerjakan. Fitrah manusia, siapapun itu, adalah cenderung kepada kebenaran, bukan mengingkarinya. Setan saja yang selalu cerdik menyetir hawa nafsu manusia. Nah, itulah gunanya kita dianjurkan untuk belajar, mengkaji Islam, dan berteman dengan orang-orang shalih, agar ruang gerak setan untuk menjerumuskan kita semakin sempit.

Menjiplak gaya bicara Bang Napi,

“Kesalahan terjadi bukan karena Islam, karena Islam adalah dien yang terjamin dan sempurna. Kesalahan berasal dari individu masing-masing yang rentan mengalami futur dan alpa. Maka, waspadalah, waspadalah.”

Sekian. Wallaahu a’lam.🙂

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (QS. Al-Maa’idah : 3)

semoga tulisan dari kak lathifa ini bisa menyadarkan kita akan pentingnya menjaga prasangka toh kita tidak boleh menghakimi  seseorang karena identitasnya seakan-akan kesalahan kecil yang dilakukan menghapus semua perbuatan baik yang dia lakukan ,

well like everyone said when i do a good thing no one remember but when i make a mistake no one forget  but wait please don’t use that idiot statemen in this life. it no longer useful, the real people don’t use it anymore ~

Sumber ; laninalathifa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s