called her “woman” and Dismissed her views

You can’t handle a 
Woman who can hold a cigarette 
Better than you

You can’t handle a 
Woman who can race a car 
Faster than you

You laugh at her fight for freedom
And then you wonder why 
Your mother refuses to let you enter 
The heaven that is 
Beneath her holy feet.

You never allowed her to stand on them and ask for her dues
You called her “woman” and 
Dismissed her views

You will forever be standing at 
The gates,
She will forever be guarding 
The gates

  Heaven Beneath Her Feet, Aishah Malak

Jangan Membenci :D

gini lah bray kalau terpaksa membenci jangan ketara

sembunyikan bersama sabarmu biarkan dia berkata-kata

relakan dia buat segala apa yang nak dia buat, pendam rasamu, rendam kata-kata kasarmu.

Jika terpaksa membenci,  yah benci aja seadanya, jangan dirinya tetapi kelakuannya
jangan keterlaluan, jangan berlebihan diam… kau coba lah sikit maniskan wajah. HAHAHA :))

Jika terpaksa membenci, jangan sampai dapat dibaca, sembunyikan segala di sudut hatimu
namun, ingat jangan beri hatimu kepadanya !

lalu Jika jika terpaksa membenci? HAHAHAHA alangkah indahnya kalau kalimat itu tiada 😀

Love being alone

 

I like drinking coffee alone, and reading alone.
I like riding the bus alone, and walking home alone.
It gives me time to think, and set my mind free.

I like eating alone, and listening to music alone.

But when I see a mother with her child, a girl with her lover, or a friend laughing with their best friend, I realize that even though I like being alone, I don’t fancy being lonely. The sky is beautiful, but the people are sad. I just need someone who won’t run away.
and alone make me feels Allah is very near..or it’s just a such weird feeling because like to be alone? -_-

 

For My Mother When she doesn’t feel beautiful

Don’t worry about your body.
It isn’t as small as it once was, 
But honestly, the world needs more of you. 
You look in the mirror 
like you’ve done something wrong, 
But you look perfect. 
Anyone who says otherwise is telling a lie 
to make you feel weak. 
And you know better. 
You’ve survived every single day, 
for as long as you’ve been alive.
You could spit fire if you wanted.

Well this is for My Mother when She Doesn’t Feel Beautiful :p

maaf. Itu bukan aku

Jika ustadz yang kau mimpi, maka itu bukan aku

jika selebriti populer yang kau damba, itu bukan aku

jika bak imam muda yang kau mahu, jauh sekali bukan aku

jika orang kaya pilihan kamu, itu bukan aku

jika orang yang bergaji besar yang kau sudi, itu jua bukan aku

Pasti kau tidak sudi pada

orang yang ada kisah silam yang gelap

orang yang baru mau bertaubat

orang yang berdosa

orang yang cetek agama

orang yang entah apa-apa

orang yang senantiasa buat salah 

orang yang baru nak coba untuk berubah 

orang yang tidak berjaya

orang yang tidak kaya 

Karena ini semua barulah aku 

Pesan buatmu Sahabat


Saya bukan sahabat yang setia seperti Abu Bakar 
Membenarkan segala kata-kata Rasulullah
Hingga digelar As-Siddiq
Saya tak sebaik beliau
Menyembunyikan kesakitan 
Hanya kerana tidak mahu sahabatnya gusar.

Saya bukan sahabat seperti Ali 
Bicaranya penuh hikmah
Kebijaksanaannya diakui Rasulullah
Hidupnya sebagai mukmin bermula saat usia masih mentah
Hinggakan cinta Fatimah Az-Zahra menjadi miliknya.

Saya bukan sahabat sehebat Umar Al-Khattab
Hatinya cair kerana bacaan Al-Quran
Saya juga tak seberani dia 
Digelar Al-Faruq
Kerana ketegasannya dalam menjaga agama
Sedangkan saya?

Saya bukan sahabat berperibadi hebat bak Uthman
Hingga Rasulullah sanggup menyerahkan dua puterinya
Kepada insan bergelar Zunurain ini.

Sahabat,
Mereka ini sahabat yang dijanjikan syurga
Sedangkan saya..
Masih terkontang-kanting dalam membentuk diri
Entah bagaimana timbangan al-mizan kelak
Usahlah mengharapkan kesempurnaan daripada saya
Sebab diri saya tak maksum
Maafkan saya andai ada silap dan salah.

Selalu ada kata Mungkin

kata-Kata “MUNGKIN”

yang terkadang akrab Mengisi setiap Tulisan Dan Analisaku

mungkinkah bila ku bertanyaaa pada bintang-bintang ~ ~ ~ *dan noah band mengiringi setiap jeritan hati yang tak kunjung usai ini ah bukan itu yang ingin aku bahas kali ini :p 

284751_408392885887341_142744171_n

kau tau? mungkin bagiku sebuah proses pendewasaan terkadang harus melalui cobaan menyakitkan dulu yah walaupun tidak terlalu menyakitkan hanya saja terkadang kita yang menggangapnya demikian, atau mungkin Tidak? yah berbicara soal kemungkinan, mungkin aku seharusnya lebih bersikap dewasa.

dewasa untuk melewati ekspektasi orang-orang lainnya yang mungkin salah dalam setiap pemikirannya tanpa tau kebenaran yang sesungguhnya, atau Mungkin juga tidak harus. terkadang merasa di usia semuda ini aku sudah lelah berjalan dan hanya ingin terduduk di tepian menyaksikan orang berkejaran ditunggangi obsesi yang menyamar dengan kata cita-cita. HAHAHA entahlah apa Mungkin aku yang sudah gila bila aku memilih untuk menyerah?

kini dengan tanggung jawab hidup sebesar ini. ah Mungkin aku tidak perlu menulis kata” ‘mungkin’ berkali-kali. ‘Mungkin’ hanya digunakan oleh orang-orang yang tak berani dan tegas untuk mengemukakan suatu pendapat. Tapi mungkin juga tidak.terkadang  Coretan tanpa arah. Mungkin tak perlu dicoret dan dibaca. Tapi mungkin juga perlu, siapa tahu kelak disaat aku “MATI” ngomong” soal mati semua yang bernyawa pasti mati karena itu PASTI lalu ada seseorang yang peduli dan segera menggali setiap goresan” hati yang tertulis dalam bentuk” tulisan ini ;’)

aku yang ahli berpura-pura

images

Aku yang ahli berpura-pura, atau kamu yang terlalu ahli menanamkan luka?

Rupanya bepura-pura tak semudah yang kukira. Kusuruh hati menyabarkan diri, meski dengan cara itu juga ia melukai. Menurut teoriku, bicara takkan membuat semuanya jadi lebih tertata. Jika teori itu salah, anggaplah pikiran ini sedang berulah.

Pilihanku sepertinya hanya ada dua, pilih luka dengan menutup mata berpura tidak ada apa-apa atau luka dengan membeberkan semuanya?Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi nanti.

 

Aku tak mau menyebut ini perasaan rahasia, meski memang ada hatiku yang diam-diam telah tersia-sia. Selalu kuingat satu hal, kita akan diberikan yang terbaik jika kita memberi yang terbaik pula. Namun, tak pernah ada peringatan bahwa memberi yang terbaik juga termasuk mengorbankan rasa. Ingin kuyakini ini hanya sementara, dan Tuhan tak mungkin memberi kesusahan jika aku tak cukup kuat menerima. Maka biar rasa ini kutelan pelan-pelan. Biar sedih ini aku saja yang merasakan, sebab luka tak semestinya kubagi-bagikan.

 

Bukankah sebagian daripada hidup ini adalah sandiwara?

Dan untuk kali ini, akulah sang pemeran utama. Ada sedih yang kupendam rapat-rapat. Ada pedih yang kugenggam erat-erat. Hingga mereka pikir aku adalah sosok yang kuat. Nyatanya tidak. Ada sesuatu di dalam aku yang perlahan-lahan mulai runtuh. Ada sesuatu di dalam aku yang perlahan-lahan mulai meretak, dan mungkin sebentar lagi akan hancur. Ada sakit hati yang tertahan, dan entah kapan akan tersalurkan.

 

Di layar kaca penuh pura-pura ini tersusun skenarioku tersenyum bahagia. Diantara tak rela juga tak tega. Aku sudah terbiasa menahan tangis sambil tersenyum manis.

Kamu tidak pernah tahu bukan?

Kuharap ada polisi rasa yang bisa memborgol metode pura-pura itu ke penjara. Suruhlah para polisi itu menahannya, agar jangan aku lagi yang jadi tahanannya. Agar tiada lagi yang menaruh diam sebagai salah satunya alasan luka bisa diredam. Agar raja terego sedunia bernama pura-pura saja yang tenggelam.

 

Aku tak pernah menyangka bahwa tak perlu banyak belajar untuk menjadi aktor sandiwara. Cukup beri betubi-tubi luka, dengan kesabaran sebagai topengnya. Lalu dialog meyakinkan dan senyum selebar-lebarnya. Bukan bermaksud menjadi yang palsu dihadapanmu. Hanya saja, aku terlalu takut menemui kenyataan yang tak sesuai inginku. Sebab bukan tak mungkin ketika nanti kamu tahu hatiku luka dan aku berharap kamu datang mengobati, nyatanya kamu hanya menertawai.

 

Entah sudah seberapa berat beban yang harus kupikul, namun dalam membungkusnya dengan topeng bahagia aku tampak paling unggul.Entah sudah berapa tetes air mata yang seharusnya kutahan, namun aku paling piawai dalam mengekspresikannya dengan senyuman. Tidak semuanya tahu bahwa ada isak yang kuendap dalam diam. Karena ketika mereka tahu pun, belum tentu mereka peduli.

Hanya kepada Sang Maha, tangisku tercurah tanpa sandiwara. Dan hanya kepadaNya, aku tahu bahwa pura-puraku hanyalah sia-sia.

Meski hari-hari terasa tersiksa dengan cinta yang seakan kujaga dengan terpaksa, tapi hanya kamu orang yang mampu membuatku berikan segalanya. Aku terluka, tapi Tuhan tak buta. Dia melihat apa yang tersembunyi dibalik hati. Tak ada yang bisa membohongi, meski kubilang tak apa ratusan kali.

Berserah kepadaNya, biarlah Dia yang mengambil alih posisi nahkoda dalam setiap cerita. Bahagia pasti punya jalurnya, akupun ada di dalam alurnya. Ya, aku percaya.

 

Ironisnya, terlalu mudah untuk berkata ‘ya’ ternyata bisa berujung tidak bahagia. Aku tahu, percuma memendam jika dalam hati tak bisa beri maaf dan terus mendendam.

Maka semoga Tuhan memberi porsi kesabaran yang berlebih, agar setiap perilakumu yang menggores hati, mampu dengan mudah kurawat perihnya sendiri. Dan semoga Tuhan memberimu cinta yang berlebih, agar tak perlu kamu merasa sepertiku untuk bisa menjadi yang lebih baik dariku.

Semoga kelak sifat burukmu lupa caranya memunculkan diri, sehingga akupun lupa bagaimana rasanya disakiti.

 Pada akhirnya, kuharap selalu lahir toleransi untuk setiap sakit hati yang entah kapan akan berhenti. Kuharap senantiasa ada maaf yang tak mengenal garis akhir. Kuharap akan ada balasan untuk segala yang sudah berjalan.

Mudah-mudahan bukan diam yang akan menjadi jawaban. Mudah-mudahan bukan hati lagi yang harus menjadi korban.

Karma yang baik, berkunjunglah kepada hati yang baik.

Sumber

Beberapa Hal yang Mesti Kau Catat lalu Kau Baca saat Merasa Sendiri

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ4GEEAaBC6YO5mXLQFFGPkEmA_krEJWwAGxL6qZ3NXo7raN6WZ

By ; @NDIGUN

Ada yang diam-diam ingin disapa olehmu. Percayalah.

Ada yang mengharap pertemuan kedua, setelah matamu mendarat di matanya, tanpa aba-aba. Ada yang setiap hari terbangun buru-buru, demi sebuah frasa ‘Selamat pagi’ dari bibirmu. Ada yang tak pernah berhenti mencatat. Sebab, setiap kalimatmu adalah peta. Ia tak mau tersesat.

Ada mata yang berbinar sempurna dalam tunduk sipu, tiap kau sebut sebuah nama, miliknya. Ada yang mengembangkan sesimpul lengkung di bibirnya, di balik punggungmu, malu-malu. Ada yang memilih terduduk saat jarakmu berdiri dengannya hanya beberapa kepal. Lututnya melemas, tiba-tiba. Ada yang tak pernah melepas telinganya dari pintu. Menunggu sebuah ketukan darimu.

Ada yang dadanya terasa berat dan kau tak pernah tahu, saat kau tak tertangkap matanya beberapa waktu. Ada yang pernah merasa begitu utuh, setelah kaki-kaki menjejak jauh darinya. Sekarang, runtuh.

Ada yang diam-diam mendoakanmu, dalam-dalam. Percayalah.

by : estipilami

Ada yang mengharap kamu untuk hadir sekali lagi, meski ia tahu semuanya hanya bisa terjadi hanya di dalam mimpi.

Ada yang mengharap kamu untuk kembali, meski ia tahu sudah ada yang lain—berdiri dengan tegak di sisi, melindungi.

Ada yang mengharap rindu untuk pulih, bersamaan dengan ceritanya dengan seorang teman—tentangmu yang entah kapan akan membuatnya letih.

Ada yang mengharap bahwa dalam doa, ia cukup untuk meminta kepada Sang Maha agar sekiranya kamu bisa berbahagia.

Ada yang mengharap sebuah pesan akan mampir sebentar ke ponselnya. Pesan yang singkat—asal darimu, menanyakan hal yang tak penting pun tak apa.

Ada yang mengharap kamu untuk tetap ingat segala hal yang ingin ia lupakan tanpa niat.

Ada yang mengharap renyah tawamu, meski ia harus berpikir keras bagaimana caranya untuk melakukan hal yang konyol namun lucu.

Ada yang mengharap kamu akan baik-baik saja, meski itu artinya ia harus merelakan hampir segalanya.

Ada yang mengharap kamu memikirkannya sebentar saja, saat ia sedang benar-benar memikirkanmu seutuhnya.

Ada yang mengharap untuk ditugaskan menjadi satu, di hatimu.

Ada yang mengharap kamu agar tidak tahu bahwa selama ini, dari jauh, ia cukup jeli dalam mengamatimu.

Barangkali saja itu dia, yang selama ini sedang diam-diam mengagumi, namun kamu belum juga menyadarinya.

Sederhana saja, jika kalian akan baik-baik saja sebelum dan sesudahnya, ia mungkin tidak akan mencintaimu tanpa suara.

 

Percakapan dua hati

PERCAKAPAN DUA HATI 

eh macem mana pulak ni hati bolehsaling cakap? iyeke? awak tak caye? jom simak

indri dwi rachmawati berkolaborasi bersame Pramesti Laksmi mereka boleh cube dan nak butkikan kalau benar hati tu boleh cakap satu sama lain, jom jom disimak :3

http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR3_J6qf5TmywLk6bYHE34GXX26Mr4tBRveK8A_2EaMJV7Ye_m3

  • X: Jika malam ini aku merindukan kamu, berlebihankah ketika aku meminta semesta untuk menyempatkan sesingkat-singkatnya temu?
  • Y: Inginku pun begitu. sebab aku lelah jika harus terus mendekapmu dalam sempitnya celah mimpi-mimpi kita, itu terlalu sementara.
  • X: Aku termasuk yang tidak mudah untuk menangani rindu sendirian. Terkadang aku butuh waktu sebentar agar diizinkan merebah di pangkuan. Kamu, satu-satunya yang saat ini kuperlukan.
  • Y: Selalu kupinta pada Tuhan agar jarak ini dikurangkan, namun rindu biar saja ditambahkan. Sebab aku selalu suka caramu membayar setiap hitungan rindu. Serangan senyum itu, pelukan erat itu.. Ah, sudahlah. Aku baru saja melipatgandakan rindu di dadaku, dengan hanya mengingat-ingat tentang kamu.. Ayo, kita kalahkan semesta, mari bersua!
  • X: Aku pun, selalu kagum pada caramu menenangkan rindu milikku. Bukankah terkadang jarak tampak indah di mana kita dihadapkan pada dua yang saling membutuhkan? Sedang apa rindu milikmu? Milikku sedang berlarian mengelilingi benak dan kepala, entah untuk tujuan apa.
  • Y: Rinduku sedang memperhatikanmu dari kejauhan. menyusun strategi, dengan apa ia akan menenangkan hatimu nanti. Boleh kuminta kamu rekam setiap senyummu ketika memikirkan aku? Aku ingin berkaca pada gambar bibirmu
  • X: Boleh kuminta potret indah bola matamu ketika menuliskan itu? Biarkan aku menjadi sosok yang paling bersyukur dan dapat lebih jauh untuk menerima adanya rentang di antara kita.
  • Y: Kata-katamu menumbuhkan banyak sekali kamu di dalam aku, sampai-sampai dada ini terasa penuh; sesak yang menyenangkan. Hati-hati, jangan membuat cintaku semakin banyak dipendam, sebab ia gemar membalas dendam.
  • X: Aku selalu ingat pada bagaimana kata-kata seakan mampu menenangkan. Aku juga selalu ingat bagaimana pesan-pesan yang terkirim darimu selalu bisa menentramkan. Maka jadilah bagian dari perjalanan mereka, dan bersedialah menjadi tujuannya.
  • Y: Tentu, sebab sudah kubangun rumah masa depan berisi kamu, aku dan semesta kita. Meski baru sebatas angan, mari kita persiapkan. Tenang saja, masih banyak waktu untuk rindu yang kian berlipat, juga cinta yang kita sebar di banyak tempat.
  • X: Hari sudah terlalu larut. Beristirahatlah kamu, muara dari segala rindu-rindu. Malam ini, sudah sehari lagi kita mendekat pada hari untuk bertemu. Terima kasih, untuk segalamu yang selalu bisa menenangkan aku.
  • Y: Terima kasih kembali, sumber senyum semangatku. Tunggu aku di persimpangan mimpi. Mari bersama kita lalui sisa hari ini sampai mentari bilang selamat pagi. selamat memeluk cinta di antara jarak kita..Kuharap Tuhan akan selalu menjagamu, kepingan berharga dalam hatiku.

Pada sepasang hati yang saling merindukan, aku berharap secepatnya rindu mereka dipertemukan.

dan ternyate hati boleh cakap satu sama lain kan? meski tak langsung berhadapan kurasa hati kite pun bisa berbincang melalui perasaan yah semoga je lah (Eyaaak apa bende awak jadi cakap melayu gini) 😀