Perkara yang membuat kita buta


saat bila tiba-tiba kita akhirnya menangis.
sebab perkara remeh temeh.
hal-hal kecik.
setelah lama mata kita kering.

barulah akhirnya kita tersedar,
kita rupanya belum cukup kuat.
hati masih rapuh,
ada ruang, ada lompong, ada kosong.
ada jarak,

dengan Tuhan.

kita alpa, kita lalai. kita lupa, kita leka.
DIA datang, DIA tunjuk.
perkara-perkara besar sudah membuat kita BUTA,
maka datang perkara-perkara kecil membuat kita terJAGA.

 

 URGHM… 

ketika merasa putus asa

 

 

 

 

 

 

Saat aku mulai putus asa, berpikir tuk menyerah, aku mulai banyak bertanya pada Tuhan.

“Tuhan, mengapa harus begini?”, Tuhan jawab “Agar kau kuat, agar kau kembali ingat padaKu”.

“Tuhan, mengapa harus aku?”, Tuhan jawab “Karena Aku tahu kamu kuat, dan Aku menginginkanmu lebih kuat”.

“Tuhan, tapi sampai kapan? Apa akhir dari semua ini?”, Tuhan jawab “Bersabarlah. Ingat kembali janjiKu. Aku menunggumu dengan kejutan yg lebih indah dari yg kau bayangkan. Jika bukan sekarang, pasti nanti. Bersabarlah!”

Segera ku hapus airmataku, ku tata kembali hatiku, bersyukur atas semua nikmat dan cobaanNya, kemudian yakin bahwa Tuhanku Yang Maha Penyayang tak mungkin membiarkanku terlalu lama jatuh tanpa merencanakan sesuatu untuk kebahagiaanku.

Ah Tuhan, betapa cobaan ini mampu membuatku semakin yakin, Kaulah Maha Indah. Love You Rabbi 🙂

Entahlah ketika keputus asaan melanda , ketika aku merasa menyerah adalah jalan salah satunya oh sungguh Ternyata aku salah benar” salah jadi ku akan terus melangkah dengan menyebut Nama-Nya

Pertanyaan tentang Tuhan

PERTANYAAN TENGAN TUHAN By nayasa

Tiba-tiba saya menyadari, bahwa saya sangat kecil dan lemah sekali jika dibandingkan dengan kekuasaannya. Sungguh, kalau Tiba-tiba saya menyadari, bahwa saya sangat kecil dan lemah sekali jika dibandingkan dengan kekuasaannya. Sungguh, kalau dipikirkan kembali apalah artinya saya, tanpaNya. Saya juga menyadari bahwa ternyata saya tidak ada kuasa apapun terhadap diri saya   sendiri, atas keberjalanan semua hal dalam hidup. Saat saya sedang rapuh dan terjatuh, saya butuh ‘sesuatu’ yang menyokong saya agar tetap bangkit lagi. Dan saya tidak menemukannya kepada siapapun selain Tuhan. Saya seringsekali menangis, dan diam-diam saya berbicara denganNya dengan bahasa yang hanya dipahami ‘kami’ berdua. Entah mengapa saya menjadi lebih aman, lebih tenang. Ah iyah saya lupa, bahwa kita ini adalah makhluk sosial, tidak akan benar-benar bisa mengatasi kesepian dan kesendirian. Sekalipun disaat kita benar-benar merasa ingin sendiri, kita tetap ingin ditemani.

Benar kalau ada yang mengatakan, bahwa Tuhan, diciptakan ‘manusia’ untuk menyatakan, bahwa sebenarnya kita ini seringkali berada dalam ketiadaan dan kekosongan. Tapi di sanalah Tuhan bersemayam.

Tuhan, membuat saya aman, nyaman dan tidak merasa sendirian. Ada tempat yang mampu diandalkan walau Dia tidak terlihat. Bahwa hidup ini adalah tentang kepercayaan. Saya menuhankan Dia, yang tidak terlihat dengan kasat mata, karena saya butuh pegangan dan ‘sesuatu’ yang saya percayai itu.

Tapi kepercayaan, juga, berhubungan dengan pertanyaan. Bagi saya, iman itu adalah sebuah pertanyaan. Begitu juga cinta adalah sebuah pertanyaan. Iman dan cinta saya pada Tuhan, seringkali menjadi pertanyaan besar dan terus menerus yang tidak pernah selesai. Tapi bagi saya itulah kuncinya. Semakin saya mempertanyakan, saya  merasa makin ‘menemukannya’ dengan cara yang berbeda. Saya malah khawatir, jika suatu saat saya tidak bertanya-tanya lagi tentang Dia, jangan-jangan saya sudah membunuhNya dari hati saya, hingga Dia larut dan menggenang lalu hilang.

aku yang ahli berpura-pura

images

Aku yang ahli berpura-pura, atau kamu yang terlalu ahli menanamkan luka?

Rupanya bepura-pura tak semudah yang kukira. Kusuruh hati menyabarkan diri, meski dengan cara itu juga ia melukai. Menurut teoriku, bicara takkan membuat semuanya jadi lebih tertata. Jika teori itu salah, anggaplah pikiran ini sedang berulah.

Pilihanku sepertinya hanya ada dua, pilih luka dengan menutup mata berpura tidak ada apa-apa atau luka dengan membeberkan semuanya?Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi nanti.

 

Aku tak mau menyebut ini perasaan rahasia, meski memang ada hatiku yang diam-diam telah tersia-sia. Selalu kuingat satu hal, kita akan diberikan yang terbaik jika kita memberi yang terbaik pula. Namun, tak pernah ada peringatan bahwa memberi yang terbaik juga termasuk mengorbankan rasa. Ingin kuyakini ini hanya sementara, dan Tuhan tak mungkin memberi kesusahan jika aku tak cukup kuat menerima. Maka biar rasa ini kutelan pelan-pelan. Biar sedih ini aku saja yang merasakan, sebab luka tak semestinya kubagi-bagikan.

 

Bukankah sebagian daripada hidup ini adalah sandiwara?

Dan untuk kali ini, akulah sang pemeran utama. Ada sedih yang kupendam rapat-rapat. Ada pedih yang kugenggam erat-erat. Hingga mereka pikir aku adalah sosok yang kuat. Nyatanya tidak. Ada sesuatu di dalam aku yang perlahan-lahan mulai runtuh. Ada sesuatu di dalam aku yang perlahan-lahan mulai meretak, dan mungkin sebentar lagi akan hancur. Ada sakit hati yang tertahan, dan entah kapan akan tersalurkan.

 

Di layar kaca penuh pura-pura ini tersusun skenarioku tersenyum bahagia. Diantara tak rela juga tak tega. Aku sudah terbiasa menahan tangis sambil tersenyum manis.

Kamu tidak pernah tahu bukan?

Kuharap ada polisi rasa yang bisa memborgol metode pura-pura itu ke penjara. Suruhlah para polisi itu menahannya, agar jangan aku lagi yang jadi tahanannya. Agar tiada lagi yang menaruh diam sebagai salah satunya alasan luka bisa diredam. Agar raja terego sedunia bernama pura-pura saja yang tenggelam.

 

Aku tak pernah menyangka bahwa tak perlu banyak belajar untuk menjadi aktor sandiwara. Cukup beri betubi-tubi luka, dengan kesabaran sebagai topengnya. Lalu dialog meyakinkan dan senyum selebar-lebarnya. Bukan bermaksud menjadi yang palsu dihadapanmu. Hanya saja, aku terlalu takut menemui kenyataan yang tak sesuai inginku. Sebab bukan tak mungkin ketika nanti kamu tahu hatiku luka dan aku berharap kamu datang mengobati, nyatanya kamu hanya menertawai.

 

Entah sudah seberapa berat beban yang harus kupikul, namun dalam membungkusnya dengan topeng bahagia aku tampak paling unggul.Entah sudah berapa tetes air mata yang seharusnya kutahan, namun aku paling piawai dalam mengekspresikannya dengan senyuman. Tidak semuanya tahu bahwa ada isak yang kuendap dalam diam. Karena ketika mereka tahu pun, belum tentu mereka peduli.

Hanya kepada Sang Maha, tangisku tercurah tanpa sandiwara. Dan hanya kepadaNya, aku tahu bahwa pura-puraku hanyalah sia-sia.

Meski hari-hari terasa tersiksa dengan cinta yang seakan kujaga dengan terpaksa, tapi hanya kamu orang yang mampu membuatku berikan segalanya. Aku terluka, tapi Tuhan tak buta. Dia melihat apa yang tersembunyi dibalik hati. Tak ada yang bisa membohongi, meski kubilang tak apa ratusan kali.

Berserah kepadaNya, biarlah Dia yang mengambil alih posisi nahkoda dalam setiap cerita. Bahagia pasti punya jalurnya, akupun ada di dalam alurnya. Ya, aku percaya.

 

Ironisnya, terlalu mudah untuk berkata ‘ya’ ternyata bisa berujung tidak bahagia. Aku tahu, percuma memendam jika dalam hati tak bisa beri maaf dan terus mendendam.

Maka semoga Tuhan memberi porsi kesabaran yang berlebih, agar setiap perilakumu yang menggores hati, mampu dengan mudah kurawat perihnya sendiri. Dan semoga Tuhan memberimu cinta yang berlebih, agar tak perlu kamu merasa sepertiku untuk bisa menjadi yang lebih baik dariku.

Semoga kelak sifat burukmu lupa caranya memunculkan diri, sehingga akupun lupa bagaimana rasanya disakiti.

 Pada akhirnya, kuharap selalu lahir toleransi untuk setiap sakit hati yang entah kapan akan berhenti. Kuharap senantiasa ada maaf yang tak mengenal garis akhir. Kuharap akan ada balasan untuk segala yang sudah berjalan.

Mudah-mudahan bukan diam yang akan menjadi jawaban. Mudah-mudahan bukan hati lagi yang harus menjadi korban.

Karma yang baik, berkunjunglah kepada hati yang baik.

Sumber

Hidayah Milik Allah


Tidak, saya bukannya tunjuk baik,
Saya hanya mahu menasihati.
Tidak, saya bukannya tahu segala-galanya,
Saya hanya buat apa yang termampu.
Tidak, saya bukannya tidak faham apa yang berlaku,
Sayalah sebenarnya yang paling sedih melihat apa yang menimpamu.

Ya, saya tahu apa yang si dia telah hancurkan,
Tetapi bukan itu yang sepatutnya dilakukan.
Ya, saya tahu sukarnya untuk memaafkan,
Tetapi itulah cara untuk membuat jiwamu tenang.
Ya, saya tahu hati itu sering disakiti,
Tetapi sampai ke mana hendak dibawa sakit itu pergi?
Ya, saya tahu perkara itu sememangnya perit,
Tetapi itulah cara untuk hatimu bahagia buat selama-lamanya.

Ya, saya tahu tidak terdaya diri ini untuk mengubah,
Namun, saya yakin jika Allah menginginkannya, maka jadilah ia begitu.

 

hidup seperti perlombaan

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yg memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).
Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yg mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.

Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya,

‘Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?’

Ashe menjawab

‘Di dunia ini ada 50 juta anak yg ingin bermain tenis,

diantaranya 5 juta orang yg bisa belajar bermain tenis,

500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional,

50 ribu datang ke arena untuk bertanding,

5000 mencapai turnamen grandslam,

50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon,

empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final.

Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan,

‘Mengapa saya?’

Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan,

‘Mengapa saya?’

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan.

Tetapi tidak demikian. Ia berbeda dengan kebanyakan orang. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup yg menekan berat.

Ketika menerima sesuatu yg buruk, ingatlah saat – saat ketika kita menerima yg baik…

‘Kuda pemenang tidak tahu mengapa dia harus lari dan memenangkan perlombaan.

Yg dia tau, dia harus berlari krn dipukul dan sakit..!!

Hidup ini seperti sebuah perlombaan. Dan Tuhan adalah komandonya atau ibarat jokinya..

Jika engkau mengalami sakit, dihajar, menerima yg tidak enak, berpikirlah :’Tuhan ingin engkau menang !!’

Kata indah yang bermakna

Seseorang telah menuliskan kata-kata yang indah ini.
Cobalah ambil sedikit untuk mengerti maknanya

1. Doa bukanlah “ban serep” yang dapat kamu keluarkan ketika dalam masalah, tapi “kemudi” yang menunjukkan arah yang tepat.

2. Kenapa kaca depan mobil sangat besar dan kaca spion begitu kecil?
Karena masa lalu kita tidak sepenting masa depan kita.
Jadi, pandanglah ke depan dan majulah.

3. Pertemanan itu seperti sebuah buku.
Hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk membakarnya, tapi butuh waktu tahunan untuk menulisnya.

4. Semua hal dalam hidup adalah sementara.
Jika berlangsung baik, nikmatilah, karena tidak akan bertahan selamanya.
Jika berlangsung salah, jangan khawatir, karena juga tidak akan bertahan lama.

5. Teman lama adalah emas!
Teman baru adalah berlian!
Jika kamu mendapat sebuah berlian, jangan lupakan emas! Karena untuk mempertahankan sebuah berlian, kamu selalu memerlukan dasar emas.

6. Seringkali ketika kita hilang harapan dan berpikir ini adalah akhir dari segalanya, Tuhan tersenyum dari atas dan berkata ” Tenang sayang, itu hanyalah belokan, bukan akhir!

7. Ketika Tuhan memecahkan masalahmu, kamu memiliki kepercayaan pada kemampuanNya; ketika Tuhan tidak memecahkan masalahmu, Dia memiliki kepercayaan pada kemampuanmu.

8. Seorang buta bertanya pada Tuhan : “Apakah ada yang lebih buruk daripada kehilangan penglihatan mata?”
Tuhan menjawab : “Ya ada!, kehilangan visimu dan kepesimisan yg ada didiri seseorang!!”

9. Ketika kamu berdoa untuk orang lain, Tuhan mendengarkanmu dan memberkati mereka, dan terkadang, ketika kamu aman dan happy, ingat bahwa seseorang telah mendoakanmu.

10. Khawatir tidak akan menghilangkan masalah besok, hanya akan menghilangkan kedamaian hari ini.

Jika kamu menikmati dan merasa sudah diberkati, mohon mengirimkan juga ke orang lain.
Karena siapa tau akan mencerahkan hari seseorang juga..
“Berilah maka engkau akan menerima”

Sumber